KOLA (Cola spp.) TANAMAN INDUSTRI POTENSIAL

November 12, 2008

            Tanaman kola (Cola spp.) tumbuh baik di daerah beriklim tropik, dapat diperbanyak dengan biji, setek, okulasi, cangkok atau penyambungan. Ada beberapa jenis tanaman kola seperti C. acuminata (kola Abata), C. anomala (kola Bamenda), C. nitida (kola Gbanja) dan C. verticillata (kola Owe) namun yang umum dibudidayakan adalah C. acuminata dan C. nitida. Tanaman ini dapat ditanam sebagai tanaman penahan angin, batas kebun pada perkebunan kakao dan dapat digunakan sebagai pengendali erosi. Bagian utama tanaman kola yang bermanfaat adalah bagian bijinya. Biji diperoleh dari buah yang mulai masak 4-5 bulan setelah pembungaan. Komponen yang terdapat dalam biji kola antara lain : kafein (2,35 %), theobromin (0,02 %), tanin (1,50 %), pati (33,73 %), protein (6,76 %), selulosa (29,83 %), lemak (0,59 %) dan berbagai bentuk asam amino (0,94-1,94 %). Simplisia biji digunakan dalam industri obat-obatan, industri  makanan dan minuman sedang biji kola dapat digunakan pula sebagai bahan pewarna textil dan campuran pupuk kalium

Gambar 1. Tanaman Kola

                                                                                                                         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kola (Cola spp.) merupakan tanaman industri yang berasal dari Afrika Barat termasuk famili Sterculiaceae sekerabat dengan tanaman kakao. Nama daerah tanaman ini adalah kola, khole dan kolaan.  Di Indonesia tanaman ini ditanam sebagai tanaman penahan angin, batas kebun pada perkebunan kakao.  Tanaman kola belum dibudidayakan  dalam skala luas, meskipun telah masuk ke Indonesia sekitar tahun 1885.

Kalsifikasi tumbuhan kola adalah sebagai berikut :

Kingdom             : Plantae

Divisi                  : Magnoliophyta

Kelas                  : Rosopsidae

Ordo                   : Malvales

Famili                 : Sterculiaceae

Genus                : Cola

Ada beberapa jenis tanaman kola seperti C. acuminata (kola Abata),    C. anomala (kola Bamenda), C. nitida (kola Gbanja) dan C. verticillata (kola Owe) namun yang umum dibudidayakan adalah C. acuminata dan C. nitida  . Tanaman C. acuminata mempunyai ketinggian rata-rata  7-10  meter, warna biji merah atau merah jambu sedangkan C. nitida ketinggian tanaman rata-rata 10-13 meter bahkan dapat mencapai lebih dari  20 meter, warna biji merah, putih atau merah muda.

 

 

 

Lingkungan Tumbuh

Tanaman kola paling sesuai pada iklim tropik dengan kelembaban tinggi, jenis tanah Aluvial drainase baik, subur dan  mengandung banyak humus.

Kola tumbuh pada ketinggian antara 0-200 m di atas permukaan laut akan tetapi pertumbuhan paling baik adalah pada ketinggian 0-400 m di atas permukaan laut, curah hujan rata-rata 1250 m/tahun. Kola termasuk dalam kelas Dicotyledone, berakar tunggang dengan perakaran yang kompak. Oleh karena itu tanaman ini dapat digunakan sebagai pengendali erosi dan penahan angin.

Tanaman kola mempunyai bentuk daun tunggal, tersebar, bertangkai, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, panjang 7-19 cm, lebar 2-6 cm, berwarna hijau dengan pertulangan menyirip.

Kola menghasilkan bunga dan buah yang tumbuh langsung dari kuncup dorman padan batang utama atau cabang utama. Bunga kola berbentuk malai, bunga majemuk, mahkota bentuk bintang, bertaju lima, warna kuning keputihan.

Penyebaran

Tanaman kola pertama kali ditanam di Bogor lalu meluas ke Cikampek, Jawa Tengah dan beberapa daerah lainnya. Akan tetapi tanaman ini belum begitu dikenal di Indonesia karena penyebaran dan budidayanya yang masih terbatas.

 

Budidaya

Perbanyakan tanaman dapat dilakukan secara vegetatif dan generatif. Secara vegetatif dengan setek, okulasi, cangkok, penyambungan. Perbanyakan tanaman secara setek, menggunakan cabang tanaman yang sudah agak tua (mengeras) menghasilkan banyak daun. Perbanyakan dengan cara penyambungan dilakukan dengan mengambil ranting dari pohon dewasa dan  batang tanaman berasal dari tanaman yang dihasilkan dari biji kemudian disungkup dengan plastik. Cara penyambungan dapat juga dilakukan dengan mengambil ranting daun pohon dewasa dan batang dari tanaman yang berasal dari biji dan ditanam dalam pot. Keberhasilan penyambungan dapat tercapai apabila tanaman itu disungkup dengan kantong plastik dan pemeliharaan yang baik.

Gambar 2. Biji Kola

 

Perbanyakan secara generatif dengan biji. Biji kola terdapat dalam buah berisi 6-12 biji, berbentuk rombik lebar 2,5-4 cm, berwarna merah atau putih. Biji yang akan digunakan untuk perbanyakan harus sudah cukup tua dan sehat. Biji disimpan di tempat teduh dan dibasahi secara teratur selama 16 hari sebelum disemaikan, kemudian biji disemaikan  hingga menjadi bibit.

Jarak tanam untuk tanaman kola tergantung asal bibit. Bila bibit berasal dari biji, gunakan jarak tanam 8 x 8 m atau 10 x 10 m dan apabila bibit berasal dari stek atau sambungan, jarak tanamnya 4 x 8 m.

 

Panen

Tanaman kola mulai berbuah pada umur 5-6 tahun, akan tetapi setelah berumur 2 tahun tanaman ini akan menghasilkan buah yang banyak. Tanaman ini mempunyai dua musim berbuah setiap tahunnya yaitu bulan Mei-Juli dan November-Januari. Buah kola bulat memanjang, berukuran  panjang  8-15 cm, diameter 5-9 cm, , berkulit tebal dengan permukaan berbenjol-benjol tergantung pada tangkai pendek terdiri dari beberapa buah yang membentuk bintang. Buah masak  ditandai dengan

Gambar 3. Buah Kola

 

perubahan berangsur-angsur warna kulit buah dari hijau muda menjadi hijau tua lalu kuning dan dapat membelah pada satu garis membujur.

Panen buah dilakukan dengan memotong tangkai buah yang telah matang dengan parang yang dikaitkan pada ujung galah. Buah yang telah dipetik dibelah kemudian bijinya dikeluarkan lalu direndam dalam air selama 24 jam agar  selaput bijinya lepas.

 

 

MANFAAT KOLA

Kola merupakan tanaman tahunan dengan ketinggian yang dapat mencapai 8-15 meter, dapat dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan, pohon pelindung. Buahnya untuk industri minuman dan industri farmasi. Manfaat utama tanaman ini adalah bagian dari bijinya. Biji diperoleh dari buah yang mulai masak 4-5 bulan setelah pembungaan.

Gambar 4. Buah Kola Terbelah dua

 

Biji terdapat dalam buah yang masih terbungkus dengan selaput biji. Untuk melepaskan selaput biji tersebut dilakukan perendaman dalam air selama 24 jam kemudian dikeringkan selama

 

7-10 hari hingga kadar air sekitar 13 %. Komponen yang terdapat dalam biji kola antara lain : kafein (2,35 %), theobromin (0,02 %), tanin (1,50 %), pati (33,73 %), protein (6,76 %), selulosa (29,83 %), lemak (0,59 %) dan berbagai bentuk asam amino (0,94-1,94 %).

Gambar 5. Biji Kola

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Simplisia biji digunakan dalam industri obat-obatan sebagai stimulan jantung atau susunan syaraf pusat, obat penenang dan penambah darah, penahan rasa kantuk, dan obat anti diare. Sedangkan dalam industri  makanan dan minuman tanaman kola digunakan dalam bentuk ekstrak sebagai bahan penyedap rasa dan aroma seperti pada minuman coca cola dan pepsi. Kandungan utama minuman kola berasal dari biji yang telah dikeringkan dan diproses. Selain Coca Cola dan Pepsi muncul merek lain lain dengan kandungan utama kola seperti Mecca Cola di Perancis, Zam-Zam Cola di Iran, Qibla Cola di Britania Raya serta Cola Turka dan Zelal Cola di Jerman dan minuman tersebut dipasarkan di Jazirah Arab. Selain itu biji kola dapat digunakan pula sebagai bahan pewarna textil dan campuran pupuk kalium.

Harga biji kering bersih dilaporkan Rp 2500,- per kg ditingkat petani dan dijual ke pengguna Rp 3600 – Rp 5000 per kg di Semarang, Jawa Tengah.

IMPLIKASI

Kola merupakan tanaman tahunan berkayu, batang bulat, keras, permukaan kasar, warna hijau kecoklatan dan dapat mencapai ketinggian 20 m. Tumbuhan ini berasal dari Afrika Barat kemudian tersebar luas ke seluruh daerah tropik termasuk Indonesia. Tanaman ini tumbuh liar di perkebunan yang cukup lembab pada ketinggian 700 – 1100 m di atas permukaan laut. Manfaat utama tanaman ini adalah bagian dari bijinya. Biji diperoleh dari buah yang mulai masak 4-5 bulan setelah pembungaan. Biji kola berkhasiat sebagai stimulan, anti depresif, diuretik, kardiotonik dan dalam industri makanan/minuman. Selain itu tanaman ini juga dapat dikembangkan sebagai bahan konservasi, untuk penghijauan

 

Gusti Indriati dan Laba Udarno, BALITTRI

 

 

Hello world!

November 11, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.